Kamis, 01 April 2010

Alasan tidak menulis komentar pada artikel yang dibaca


Menulis Komentar
Tidak peduli seberapa besar sebuah blog dan seberapa bagus artikel yang disajikan saya pikir pasti seorang blogger ingin agar tulisannya dikomentari. Kenapa?, salah satunya adalah sebagai umpan balik positif untuk perbaikan kualitas blog yang bersangkutan dimasa yang akan datang.

Kenyataannya, banyak sekali blog yang memiliki tampilan yang menarik dengan artikel yang sangat berkualitas tetapi seperti "kota hantu" yang tidak mendapat komentar satupun dari pembacanya, padahal kalau dilihat dari Google analytics, artikel tersebut paling banyak dibuka dengan waktu kunjungan yang cukup lama.

Terkadang kita berkecil hati, prustasi, yang akhirnya membuat kesimpulan atau sempat berpikir bahwa artikel yang kita posting itu "menyebalkan". Tunggu...dulu, jangan sampai kita seperti itu apalagi kalau hal itu menjadikan kita malas untuk membuat artikel berikutnya untuk dipublikasikan.

Berikut ini adalah beberapa alasan mengapa artikel tidak mendapat komentar

1. Posting terlalu panjang
Walaupun tidak bisa dipastikan 100% bahwa posting yang terlalu panjang tidak akan mendapat komentar.  Bayangkan apabila Anda sudah terbiasa membaca sebuah artikel yang terdiri dari 400 kata kemudian Anda disuguhkan dengan artikel yang terdiri dari 3000 kata, saya pikir akan terasa sedikit malas untuk membaca keseluruhan terutama pada waktu Anda sedang sibuk dan kemungkinan kecil untuk melanjutkan pada kesempatan lain dengan berbagai alasan, lupa misalnya. Kejadian seperti ini tentu akan memungkinkan Anda tidak atau belum sempat berkomentar. Sebagai solusinya biasanya blogger akan membagi posting yang panjang menjadi beberapa bagian yang akan dipublish pada waktu yang berbeda.

2. Kesimpulan posting tidak jelas
Kadang-kadang posting hanya berakhir begitu saja tanpa ada kesimpulan jelas bagi pembaca, apakah Anda benar-benar ingin tanggapan atau hanya sekedar sharing informasi. Karena bagi beberapa pembaca tidak tahu apakah Anda menginginkan tanggapan atau tidak, sehingga mereka mungkin tidak akan menulis komentar. Ketika Anda menyimpulkan suatu posting, tanyakan kepada pembaca apa yang mereka pikirkan atau mengakhiri dengan pertanyaan yang membuat jelas bahwa Anda ingin komentar.

3. Pembaca tidak mengerti apa yang disampaikan
Pernahkan Anda membaca suatu artikel yang begitu komplek sehingga Anda merasa tidak perlu menulis komentar, tetapi pada waktu yang bersamaan Andapun tidak ingin mengatakan "Great Post", "Nice Article", "Artikel yang bagus", "Informasi yang bermanfaat", dan sebagainya. Saya yakin Anda pernah mengalami hal ini. Sekarang, kenapa tidak Anda berpikir bahwa hal itu dapat terjadi dengan posting Anda sendiri?
Tanyakan pada diri Anda sendiri, apakah yang Anda tulis itu sudah relevan, berguna, atau menarik untuk pembaca?.

4. Pembaca melakukan apa yang Anda katakan melalui tulisan.
Jika Anda memberi sebuah tip besar yang bermanfaat bagi pembaca dan mengharuskan mereka untuk melakukan sesuatu untuk melaksanakan itu, bersiaplah untuk mendapat kemungkinan bahwa mereka tidak akan menulis komentar. Sebagai contoh sederhana misalnya Anda melakukan link roll-up dan Anda mengatakan kepada pembaca untuk memeriksa link yang sedang Anda bicarakan, ketika pembaca membuka link tersebut, ada kemungkinan mereka akan melupakan tulisan yang dibaca semula sehingga akan lupa atau enggan untuk kembali pada tulisan tadi.

5. Pembaca hanya mengejar link pada blog Anda
Menulis sebuah posting dengan  menyertakan link ke posting lain atau menggunakan plugin yang menampilkan posting terkait memiliki efek pada jumlah komentar yang akan Anda dapatkan. Jika mereka melakukan click pada link yang berada ditengah posting Anda, mereka mungkin akan membaca posting kedua sebelum mereka dapat mengomentari yang pertama, dan jika posting kedua itu berhubungan dengan orang lain, mereka mungkin hanya akan melakukan click terus-menerus. Meskipun hal ini tidak dapat dipastikan 100%, tetapi sebaiknya gunakan internal link secara proporsional dan relevan. 

6. Pembaca mengikuti social networking melalui blog Anda.
Sepertinya sudah menjadi keharusan sebuag blog untuk menampilkan widget Facebook, Twitter, atau social network sejenis sebagai salah satu cara agar pembaca dapat menjadi fan, atau follower. Coba Anda pikirkan tentang berapa kali Anda melakukan click untuk mengikuti seseorang di Facebook hanya untuk tersesat chatting di Facebook, atau berapa kali Anda telah mengikuti seseorang di Twitter hanya untuk terlibat dalam percakapan di sana. Point ini memang hampir mirip dengan kedua point sebelumnya. Jika Anda lebih mengutamakan komentar daripada koneksi media sosial, pertimbangkan mengenai penempatan link media sosial Anda atau bisa Anda letakan pada posisi paling bawah pada suatu halaman.

7. Terlalu sulit untuk dikomentari
Pernahkan Anda mengalami kesulitan untuk mengomentari tulisan yang diposting pada blog teman Anda bahkan setelah selesai membaca keseluruhan artikel tersebut? tapi akhirnya justru Anda meninggalkan postingan tersebut dan malah berpindah pada tulisan lain pada blog yang sama untuk mencari artikel yang cocok hanya sekedar untuk bisa menulis sebuah komentar. Hal ini mungkin mudah kalau blog tersebut bukan blog milik teman baik Anda. Semakin keras pembaca Anda harus bekerja dan berpikir untuk berkomentar, semakin kecil kemungkinan bahwa mereka akan melakukannya. Perlu diingat ingat bahwa kadang-kadang solusi terbaik adalah yang paling sederhana.

8. Posting sangat mudah dipahami
Saya pikir semua pernah membaca sebuah artikel tutorial misalnya tutorial photoshop dasar, kemudian pembaca mencoba mempraktekan apa yang ditulis step by step dan merekapun berhasil dengan sempurna seperti apa yang ditulis dalam tutirial tersebut. Kejadian seperti ini memungkinkan pembaca tidak akan mengomentari artikel tersebut karena asyiknya mempraktekan metode yang Anda tulis. Walaupun mereka kembali, kemungkinan hanya akan berkomentar seperti ini : " Thanks Tip nya", "Terima kasih tutorialnya", dan komentar sejenis lainnya. namun kita tentu tidak bisa menyalahkan mereka.

----------------------------------------
Saya sendiri tidak tahu persis apa yang terjadi pada blog saya ini, yang jelas mudah-mudahan tidak termasuk point ke 2, 3, dan 7.

Apakah Anda mengalami hal serupa seperti di atas ?, kalau ya kira-kira termasuk point yang mana?

Artikel lain :

;

7 comments:

Eldo     1 April 2010 21:54

Ini mengomentari tulisan yang paling bawah mas.

Justru blog mas Yuda punya kelebihan pada poin 2 dan 3. Blog mas Yuda memberikan kesimpulan dengan menyediakan sebuah pertanyaan ringan seperti "Apa teman pernah mengalami hal yang sama?" sebuah poin plus. :)

Kebanyakan blog hanya menampilkan kode-kode HTML untuk memodifikasi blog. Dan itulah yang sulit untuk dikomentari. Mau komenat apa kalau kita cuma disuguhi cara yang instan? Kalau step by step mungkin msh bisa komentar.

Untuk itu kenapa saya tidak pernah mengharap komentar pada sesi artikel yang penuh dengan kode HTML. :)

Jangan menyerah mas, keep posting aja. No kuburan blog :)

Eldo Arfendika P     1 April 2010 21:55

wuih setelah dilihat-lihat komentarnya panjang banged yah? ! Hihi

Yuda     1 April 2010 22:57

@Mas Eldo: Gak apa-apa, Saya juga sering berkomentar panjang dan salah satunya pada Blog DindingCoret.
Thanks.

Jokostt     2 April 2010 07:51

Kalau saya melihat sebuah blog yang selalu ramai dengan komentar tidak selalu artikelnya bermutu, memberi nilai tambah bagi pembacanya, Mas Yuda. Bahkan tak jarang isi postingnya malah hanya berupa cerita curhat sehari2 bloggernya.

Mengapa blog seperti itu bisa selalu ramai dikomentari setiap postingnya? Ternyata, selidik punya selidik karena bloggernya punya teman2 blogger yang loyal untuk selalu datang dan saling memberikan komentar.

Dan berdasarkan pengalaman pada blog saya, pengunjung yang datang dari Search Engine, yang non blogger jarang sekali meninggalkan komentar. Kebiasaan meninggalkan komentar hanya populer pada kalangan blogger, bukan pengunjung umum.

Dan biasanya lagi hanya artikel2 yang punya tema mengusik dan kontroversial yang bisa memancing komentar para pengunjung jenis begini (non blogger).

Yuda     2 April 2010 09:55

@Joko : Pendapat Mas Joko saya pikir termasuk point berikutnya dan kalau saya simpulkan kira-kira seperti ini untuk point ke 9. "Pembaca bukan seorang blogger tetapi hanya peengunjung yang hanya membutuhkan artikel untuk keperluannya sendiri".
Terima kasih atas point tambahannya.

Lintang Gumintang     2 April 2010 20:35

Saya kali ini sependapat dgn mas joko, apapun bentuk tulisannya komentar adalah bntuk penghargaan untuk penulisnya ataupun ucapan terimakasih, Say Thank with a Comments, hehehhe

Mayakom     23 Juni 2010 01:18

wah artikel yang menarik buat saya untuk mengoptimalkan blog...

Poskan Komentar

Mohon maaf jika saya terlambat atau tidak dapat me-reply komentar Anda. Terima kasih.

© Copyright
Anda tertarik dan bermaksud untuk menerbitkan/ mempublikasikan kembali artikel Link Sukses melalui website/ blog Anda? Silakan baca aturannya di Term of Use Link Sukses. Terima kasih telah berkunjung.


 Personal Blogs Better Blogging Blogs - Blog Catalog Blog Directory